BAB
I
PENDAHULUAN
Ketika kita
berbicara organisasi, maka kita juga
akan berbicara tentang manajemen. Setiap organisasi tidak akan pernah lepas dengan kata “manajemen”.
Bahkan terdapat pepatah “gagal merencanakan berartimerencanakan kegagalan.”.
organisasi yang besar tanpa adanya manajemen yang baik, maka organisasi
tersebut tidak akan bertahan lama. Manajemen sangat diperlukan terutama bagi
perusahaan bisnis. Manajemen
adalah suatu keterampilan kreatif, yang tidak semua orang bisa melakukannya
walaupun mereka kita sebut sebagai manajer. Karena kata manajer bukan
hanya nama suatu kedudukan tapi sebuah sifat. Keterampilan manajemen bukanlah
seperti sebuah kapsul yang ditelan oleh seorang manajer pada sore hari, dan
kemudian ia berubah menjadi seorang menajer yang berhasil di pagi esok harinya,
namun ia adalah pengalaman, praktik, dan ilmu pengetahuan yang dibentuk oleh
orang yang menggeluti jalan ini.
BAB
II
RUMUSAN
MASALAH
Dengan latar belakang yang disebutkan diatas maka penulisingin mengetahui:
1.
Apa pengertian
manager dan kebutuhan
2.
Apa sajakah peran
manager dan bagaimanamengembagkannya?
3.
Apa saja
kegiatan manager?
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian
Manager dan Kebutuhan Akan Manajemen
Redy Hendra Gunawan
(2008). Pada saat manajemen menjadi pusat utama
bagi kerja individu ataupun kelompok, maka kita dapat lihat bahwa kinerja
lembaga-lembaga yang ada, belum dekat dengan ciri dan prinsip manajemen itu.
Manajemen penting artinya bagi suatu organisasi maupun individu di dalamnya,
karena melalui menajemen, organisasi/individu bisa mengetahui bagaimana
mengatur kehidupan masa depannya, juga mengetahui tempat ia meminjakkan kakinya
dan dimensi pandangannya.
Manajemen merupakan salah satu jaminan
yang paling kuat untuk menyelesaikan kewajiban kewajiban dan
mendapatkan hasil-hasil baru sesuai dengan proses yang teratur. Dan manajemen
adalah cara untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban, sebagai ganti dari tidak
mengerjakn sesuatu dan menundanya pada waktu yang lain.
Manusia tidak dapat hidup dengan baik tanpa keberadaan
organisasi-organisasi tersebut. Dapat dikatakan juga bahwa secara elementer,
organisasi tidak akan bekerja atau bergerak sendiri tanpa adanya orang-orang
yang bertanggung jawab terhadap hal itu, yang biasa disebut manajer.
Orang-orang inilah yang membuat rancangan terhadap organisasi mereka, mengatur
sistem kerjanya, dan melakukan pengawasan terhadap yang dilakukannya.
Manajemen bagaikan sebuah hati dalam tubuh manusia,
dimana hati bertanggung jawab untuk menyalurkan darah yang dibutuhkan tubuh,
untuk menjaganya agar tetap hidup.
a.
Pengertian Manajemen
James A.F. Stoner, et al. (1996) Manajemen adalah kebiasaanyang dilakukan
secara sadar dan terus menerus dalam bentuk organisasi.
Chuck
William (2001) manajemen adalah menyelesaikan pekerjaan melaluiorang lain.
Manajemen yang baik adalah bekerja melalui orang lain
untukmenyelesaikantugas-tugas yang membantu pencapaian sasaran organisasi
seefisien mungkin.
Secara tradisional,pekerjaan seorang manajer telah diuraikan menurut
fungsimanajemen klasik, yaitu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan
mengendalikan (planning, organizing, leading, and controlling).
b.
Proses Manajemen
Proses
manajemen adalah daur beberapa gugusan kegiatan dasar yang berhubungan secara
integral, yang dilaksanakan di dalam manajemen
secara umum, yaitu proses perencanaan,
proses
pengorganisasian, proses
pelaksanaan dan proses
pengendalian, dalam rangka mencapai sesuatu
tujuan secara ekonomis. Sesungguhnya keempat proses itu merupakan hasil
ikhtisar dari pelbagai pendapat praktisi dan ahli mengenai manajemen.
Semua
gagasan itu didasarkan pada pra-anggapan yang menghendaki pembagian proses
kerja para manajer menjadi bagian-bagian yang dapat dilaksanakan. Proses-proses
itu berulangkali dinyatakan sebagai "langkah-langkah dasar
manajemen", batu-batu fondasi manajemen.
1. Proses perencanaan
meliputi gagasan bahwa manajemen mengantisipasi berbagai kondisi seperti
peluang dan kendala di masa depan, dan berusaha menetapkan lebih dulu apa yang
harus mereka lakukan dan apa yang akan mereka capai.
2. Proses
pengorganisasian berarti menempatkan
orang dan prasarana serta sarana dan sumberdaya dalam suatu tata-hubungan yang
kondusif untuk bekerja sama menuju sasaran bersama.
3. Proses
pelaksanaan meliputi pemberian arahan,
perintah kerja, dorongan dan motivasi kerja, serta pemecahan masalah. Sementara
itu
4. Proses
pengendalian dilakukan dengan pengamatan,
mencermati laporan, dan melakukan inspeksi supaya pekerjaan di semua bagian sesuai
dengan persyaratan kualitas dan ketentuan rencana hasil, dan sesuai dengan
anggaran biaya.
c.
Sarana
Manajemen
Man
dan machine, dua sarana manajemen.
Untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools
merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools
tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method,
dan markets
Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam
manajemen, faktor manusia
adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula
yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses
kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu,
manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai
tujuan.
Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang
merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan
dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan.
Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai
tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan
berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji
tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil
yang akan dicapai dari suatu organisasi.
Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi.
Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang
ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai
salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa
materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
Machine atau Mesin
digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar
serta menciptakan efesiensi kerja.
Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan
manajer. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja
suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada
sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan
kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang
melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya
tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap
manusianya sendiri.
Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan
(memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting
sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan
berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu,
penguasaan pasar
dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan.
Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan
selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.
3.2 Peran Manager dan Pengembangannya
a. Peran
manajer
Henry
Mintzberg, seorang ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan bahwa ada
sepuluh peran yang dimainkan oleh manajer di tempat kerjanya. Ia kemudian
mengelompokan kesepuluh peran itu ke dalam tiga kelompok yang
pertama adalah peran antar pribadi, yaitu melibatkan orang dan kewajiban lain,
yang bersifat seremonial dan simbolis. Peran ini meliputi peran sebagai figur
untuk anak buah, pemimpin, dan penghubung. Yang kedua adalah peran
informasional, meliputi peran manajer sebagai pemantau dan penyebar informasi,
serta peran sebagai juru bicara. Yang ketiga adalah peran pengambilan
keputusan, meliputi peran sebagai seorang wirausahawan, pemecah masalah,
pembagi sumber daya, dan perunding.
Mintzberg
kemudian menyimpulkan bahwa secara garis besar, aktivitas yang dilakukan oleh
manajer adalah berinteraksi dengan orang lain.
3 peranan utama ini kemudian olehnya
diperinci menjadi 10 peranan. Manajer atas, tengah dan bawah melakukan ini.
Peranan-peranan itu antara lain:
1. Peranan hubungan
antarapribadi (Interpersonal Role)
Bagaimana seorang manajer
berhubungan dengan orang lain. Peranan ini dibagi 3 peranan:
a. Peranan
sebagai Figurehead, yakni suatu peranan yang dilakukan untuk
mewakili organisasi yang dipimpinnya di dalam setiap kesempatan dan persoalan
yang timbul secara formal. Peranan ini sangat dasar dan sederhana, maka manajer
dianggap sebagai symbol dan berkewajiban untuk melaksanakan serangkaian
tugas-tugas.
b. Peranan
sebagai pemimpin (leader)
c. Peranan
sebagai pejabat perantara (liaison manager),
2. Peranan yang berhubungan
dengan informasi (Informational Role)
Bagaimana seorang manajer menukar
dan memproses informasi. Peranan ini terdiri dari peranan-peranan:
a. Sebagai monitor
b. Sebagai disseminator
(penyebar informasi)
c. Sebagai juru bicara
(spokesman)
3. Peranan pembuat keputusan
(Decisional Role)
Ada 4 peranan manajer yang
dikelompok ke dalam pembuatan keputusan berikut:
a. Peranan sebagai entrepreneur
b. Peranan sebagai penghalau
gangguan (disturbance handler)
c. Peranan sebagai pembagi
sumber (resource allocator)
d. Peranan sebagai negoisator.
a. Keterampilan
Manajer
Gambar
ini menunjukan keterampilan yang dibutuhkan manajer pada setiap tingkatannya.
Robert L. Katz pada tahun 1970-an
mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar.[14]
Ketiga keterampilan tersebut adalah:
1.
Keterampilan konseptual
(conceptional skill)
Manajer
tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat
konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi.
Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi
suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses
penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut
sebagai proses perencanaan atau planning. Oleh karena itu,
keterampilan konsepsional juga meruipakan keterampilan untuk membuat rencana
kerja.
2.
Keterampilan
berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Selain
kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan
berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut
juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus selalu
diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi
yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai
dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan
berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun
bawah.
3.
Keterampilan teknis (technical
skill)
Keterampilan
ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah.
Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan
tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat
kursi, akuntansi dan lain-lain.
Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin
menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:
1. Keterampilan
manajemen waktu
Merupakan
keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan
waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Griffin mengajukan contoh kasus Lew
Frankfort dari Coach. Pada tahun 2004, sebagai manajer, Frankfort digaji
$2.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bahwa ia bekerja selama 50 jam per
minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji Frankfort setiap jamnya adalah
$800 per jam—sekitar $13 per menit. Dari sana dapat kita lihat bahwa setiap
menit yang terbuang akan sangat merugikan perusahaan. Kebanyakan manajer, tentu
saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari Frankfort. Namun demikian, waktu
yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan menyianyiakannya berarti
membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.
2. Keterampilan
membuat keputusan
Merupakan
kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam
memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi
seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager).
Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan. Pertama, seorang
manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat
diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus mengevaluasi setiap
alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik.
Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih
serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.
Berdasarkan pengertian itu Hutton lalu menganggap bahwa tiga point
berikut perlu digarisbawahi dalam penyelenggaraan program pengembangan dan
pendidikan manajemen.
Pertama, para manajer perlu dianjurkan untuk memonitor — melalui berbagai media massa — berbagai peristiwa dunia secara teratur, dan me-mahami maknanya dalam kaitan dengan profesi mereka;
Pertama, para manajer perlu dianjurkan untuk memonitor — melalui berbagai media massa — berbagai peristiwa dunia secara teratur, dan me-mahami maknanya dalam kaitan dengan profesi mereka;
Kedua, dan
ini yang sulit, adalah mengumpulkan bersama-sama para manajer dari latar
belakang yang berbeda, sekaligus berusaha mendorong untuk berpikir luas tentang
perkembangan internasional, dan mengam-bil manfaat dari aktivitas-aktivitas
yang dilakukannya. Untuk membuat program-program pengembangan yang seimbang di
antara manajer tingkat menengah dan senior juga sulit, apabila tanpa perhatian
yang seksama terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di dunia internasional;
Ketiga, keliru apabila kita berpikir bahwa hanya
ada batas yang sederhana antara topik-topik internasional — yang barangkali
menjadi perhatian utama kalangan businessman, dengan pemikiran yang berkembang
di kalangan diplomat dan militer.
Pokoknya,
para manajer perlu melihat perubahan dalam dunia internasional dengan seksama,
seperti: mengapa hal itu terjadi, apa akibatnya, bagaimana kecenderungannya
terhadap penduduk di masa mendatang, dan seterusnya. Masalah lain yang juga
penting, dan karena itu tak boleh diabaikan, adalah sekuriti, perdagangan
internasional, perkem¬bangan teknologi di masa mendatang, peranan negara-negara
industri yang baru muncul, suplai dan pasar energi di masa mendatang, dan
sebagainya.
3.3 Kegiatan
Manager
a. Tingkatan Manajer dan Tanggung
Jawabnya
Menurut tingkatannya, manajer dapat
dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Top Manajer (Manajer
puncak)
Top manager bertanggung jawab terhadap
perusahaan secara keseluruhan. Tugas mereka adalah menetapkan tujuan, strategi,
dan kebijakan perusahaan secara umum, yang kemudian akan diterjemahkan lebih
spesifik oleh manajer di bawahnya. Contoh dari tugas-tugas Top manajer adalah
membuat kebijakan mengenai rencana perluasan pasar (expantion), kebijakan
mengenai kesejahteraan karyawan dan menetapkan besarnya penjualan yang dicapai.
2. Middle manajer (Manajer
madya)
Tugas Middle manager adalah
mengawasi beberapa unit kerja dan menerapkan rencana sesuai dengan tujuan dan
tingkatan yang lebih tinggi. Selanjutnya mereka melaporkan hasil pekerjaannya
kepadaTop manager. Contohnya adalah kepala klinik suatu rumah sakit,
dekan pada suatu universitas, manajer divisi. Posisi Middle manager berada
di antara top manager dan lower manager.
3. First-line manager (Manajer
bawah)
Merupakan tingkatan yang paling
bawah dalam suatu organisasi, yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga
operasional. Sebutan lain untuk jabatan ini, antara lain supervisor, kepala
departemen, dan mandor (foreman). Mereka bertanggung jawab atas satu
unit kerja dan diharapkan mampu menyelesaikan tugas dengan tujuan jangka pendek
yang sesuai dengan rencana top manager dan middle
manager.
b. Beberapa Pendekatan Tentang Manajer
1. Pendekatan Tingkatan dan Tugas-Tugas
Manajer
Tingkat manajer yang terdapat dalam
suatu perusahaan dikelompokkan atas 3 kelompok, yaituTop manager (manajer
puncak), Middle manager (manajer menengah), dan lower
manager (manajer terendah).
Pada dasarnya tugas-tugas manajer
pada semua tingkatan itu sama dalam proses manajemen, yakni membenahi semua
fungsi manajemen dengan baik, supaya tujuan optimal dapat dicapai.
2. Pendekatan Luas Peekrjaan
Manajer
Luas pekerjaan manajer meliputi
masalah “internal dan eksternal” perusahaan yang dipimpinnya. Masalah internal
perusahaan harus dibenahi dengan baik, supaya semua potensi perusahaan lebih
berdaya gunad an berhasil guna dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Masalah
eksternal perusahaan harus diperhitungkan, diamati dan dimplikasikan mengenai
kondisi-kondisi yang mendukung dan menghambat tercapainya tujuan perusahaan,
seperti tingkat persaingan, peraturan pemerintah, situasi perekonomian nasional
dan internasional.
Semakin tinggi kedudukan seorang
manajer maka skop tugasnya akan semakin luas (internal dan eksternal),
sebaliknya manajer yang kedudukannnya lebih rendah skop tugasnya lebih banyak
untuk membenahi tugas-tugas internal perusahaan. Manajer adalah intisari
manajemen dan titik sentral dari semua aktifitas yang akan dikerjakan dalam
memncapai tujuan.
3. Pendekatan Sifat Kerja
Manajer
Kerja adalah sejumlah aktivitas
fisik dan pikiran yang dilakukan seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
Dalam melakukan pekerjaan seseorang harus mengorbankan daya fisik dan daya
pikirnya supaya iad apat mengerjakan tugas-tugasnya. Kerja daya fisik hasilnya
konkret, sedang kerja daya pikir (mental) hasilnya abstrak. Sifat kerja manajer
dibedakan atas “kerja fisik dan kerja pikir”. Manajer dalam suatu perusahaan
dikelompokkan atas tiga tingkatan yaitu top manager, middle manager dan lower
manager.
4. Pendekatan Sifat-Sifat
Seorang Manajer
Sifat-sifat manajer/pemimpin yang
akan berhasil dalam tugasnya ditentukan dengan 2 cara:
a. Cara Deduktif
Menurut cara ini sifat-sifat dan
cirimanajer ditentukan berdasarkan hasil analisis jabatan (job
analysis).Karena dengan analisis jabatan akan diketahui tugas-tugas dan
tanggung jawab (job description) dan kualifikasi-kualifikasi
dari manajer yang akan menjabat jabatan tersebut. Cara ini disebut cara
deduktif, karena dengan penganalisisan jabatan itu dapat direduksi
factor-faktor yang secara logis dapat memudahkan fungsi-fungsi manajer dengan
hasil baik.
b. Cara Induktif
Menurut cara ini sifat dan ciri-ciri
manajer ditentukan dengan mencari sifat dan ciri-ciri khusus sejumlah manajer
yang telah sukses. Sifat dan ciri-ciri khsus para manajer yang sukses inilah
yang kemudian dijadikan sifat dan ciri-ciri bagi seorang manajer. Cara induktif
ini akan memungkinkan mamnajer berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Penentuan sifat dan kualifikasi-kualifikasi manajer sangat membantu untuk
memilih manajer/pemimpin yang baik.
c.
Yang
Dikerjakan oleh Para Manajer
· Manajer
bekerja dengan dan melalui orang lain
· Manajer
bertanggung jawab dan bertanggung gugat
· Manajer
menjelaskan tujuan yang saling bertentangan dan menentukan prioritas
· Manajer
harus berfikir secara analitis dan konseptual
· Manajer
adalah penengah
· Manajer
adalah politikus
· Manajer
adalah diplomat
· Manajer
merupakan symbol
· Manajer
mengambil keputusan yang sukar
Prinsip-prinsip
dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai
dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah. Menurut Henry Fayol,
seorang pencetus teori manajemen yang berasal dari Perancis, prinsip-prinsip
umum manajemen ini terdiri dari:
1. Pembagian
kerja (Division of work)
2. Wewenang
dan tanggung jawab (Authority and responsibility)
3. Disiplin
(Discipline)
4. Kesatuan
perintah (Unity of command)
5. Kesatuan
pengarahan (Unity of direction)
6. Mengutamakan
kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
7. Penggajian
pegawai
8. Pemusatan
(Centralization)
9. Hirarki
(tingkatan)
10.
Ketertiban (Order)
11.
Keadilan dan kejujuran
12.
Stabilitas kondisi
karyawan
13.
Prakarsa (Inisiative)
14.
Semangat kesatuan,
semangat korps
d.
Etika manajerial
Etika
manajerial adalah standar prilaku yang memandu manajer dalam pekerjaan mereka.
Ada tiga kategori klasifikasi menurut Ricky W. Griffin:[4]
·
Perilaku terhadap
karyawan
·
Perilaku terhadap
organisasi
·
Perilaku terhadap agen
ekonomi lainnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar