Minggu, 15 Maret 2015

Dibalik Larangan Shalat dan Puasa Bagi Wanita Sedang Haid

Islam adalah agama insaniah, semua aturannya memberi manfaat bagi manusia. Ajaran Islam mengatur kehidupan kita secara rinci. Salah satu ajaran Islam adalah melarang perempuan yang sedang haid untuk melaksanakan shalat dan puasa. Dari Abu Said Al-Hudri, Rasulullah SAW bersabda: ”…Bukankah jika (seorang wanita) haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Larangan ini tentu saja ada hikmahnya. Apa itu? mari kita simak.
Pada saat wanita melaksanakan shalat, dalam gerakan sujud dan ruku’ secara alamiah akan meningkatkan peredaran darah ke rahim. Karena kebutuhan sel-sel rahim dan indung telur seperti sel-sel limpa yang menyedot banyak darah. Begitu juga saat seorang ibu hamil, rahim membutuhkan darah melimpah agar janin mendapatkan gizi dan untuk membersihkan polusi. Jika seorang ibu hamil menjalankan shalat, aktifitasnya ini akan membantunya mengantarkan darah yang melimpah ke janin. Sementara wanita yang haid, jika menunaikan shalat, akan menyebabkan banyak darah mengalir ke rahimnya.
Akibatnya, ia akan kehilangan darah bersih/baik karena keluar bersama darah haid. Di masa haid, diperkirakan wanita kehilangan darahnya sebanyak 34 mililiter. Kadar yang sama pada cairan lainnya. Jika wanita haid menunaikan shalat, zat imunitas (kekebalan) di tubuhnya akan hancur. Sebab sel darah putih berperan sebagai imun akan hilang terbawa bersama darah haid. Mengalirnya darah secara umum akan meningkatkan kemungkinan menularnya penyakit. Namun Allah menjaga wanita haid dari penularan penyakit dengan mengkonsentrasikan sel darah putih di rahim selama masa haid agar menjaga tubuh dan melawan berbagai penyakit. Jika seorang wanita shalat saat haid, maka ia akan kehilangan darah dalam jumlah banyak. Ini berarti akan kehilangan sel darah putih. Jika ini terjadi maka seluruh organ tubuhnya seperti limpa dan otak akan terserang penyakit.
Mungkin inilah hikmah besar di balik larangan syariat agar wanita haid tidak melaksanakan shalat hingga ia suci. Al-Quran dengan sangat cermat menyebutkan, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (Al-Baqarah: 222). Disamping itu, gerak fisik saat sujud dan ruku’ semakin menambah aliran darah ke rahim dan akan hilang percuma. Lebih dari itu, jika wanita haid shalat maka akan menyebabkan kekurangan zat logam dari tubuh. Begitu juga dengan larangan shaum pada saat haid. Para medis menganjurkan agar ketika dalam keadaan haid, wanita banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Ini sejalan dengan larangan untuk shaum, karena menurut medis agar darah dan logam seperti magnesium dan zat besi dalam tubuh yang berharga tidak terbuang percuma. Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda,”Kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan tidak mengqadla shalat.”
Betapa banyak tanda-tanda yang Allah SWT berikan kepada umat manusia supaya berpikir. Allah SWT yang begitu penyayangnya terhadap manusia, sehingga segala hal yang Ia perintahkan dan Ia larang pasti ada hikmah di balik semuanya. Maka apalagi yang kita tunggu dan pertimbangkan untuk segera menaati segala aturan yang telah ditentukan oleh-Nya.

Meti Herawati 11.40

Kamis, 05 Maret 2015

3 Cara Mencari Jodoh

Bagaimana orang2 mencari pasangan hidupnya? Banyak caranya, tiga diantaranya akan dibahas dalam tulisan ini.
Nah, tulisan ini jelas dirancang untuk keperluan pembaca yang universal/populer, jadi akan dijelaskan dengan cara lebih nge-pop. Ada tiga cara yang paling sering digunakan orang2 saat mencari pasangan hidup, yang sekaligus bagaimana mereka meletakkan posisi dari cara tersebut.
Yang pertama, orang2 yang mencari pasangan dengan "mata". Ini bagian terbesar yang ada, menguasai mungkin separuh lebih populasi. Naksir karena tampilan wajah dan fisik, suka karena terlihat tampan atau cantik. Maka, bersolek semenarik mungkin, memakai pakaian terbaik, menyewa kendaraan, bergaya, plus polesan sana-sini sah-sah saja.
Karena proses pencarian pasangannya diletakkan pada mata, golongan ini dekat sekali dengan istilah "mata keranjang" (untuk sang penggoda), juga dekat dengan terminologi "mata duitan" (bagi yang tergoda).
Apakah ini buruk? Catatan ini tidak sedang membahas baik atau buruk caranya. Toh, itu boleh2 saja. Kita sibuk bilang jangan menggoda orang dengan pakaian mini nan seksi, nyatanya yang digoda memang suka hal2 tersebut. Mau menyalahkan siapa? Catatan ini hanya menjelaskan saja variasi orang2 mencari pasangan hidup.
Yang kedua, orang2 yang mencari pasangan lewat "otaknya". Logika atau nalar. Ini bagian terbesar kedua, mungkin menguasai sepertiga populasi yang ada. Seorang dokter, misalnya, akan memilih dokter lainnya, atau yang lebih mapan. Keluarga berada, misalnya lagi, akan memilih pasangan yang setara dengannya. Lulusan sarjana, memilih pasangan lulusan sarjana. Karena proses pencarian diletakkan pada otak, maka golongan ini menggunakan "kecerdasan survival" atau inteletualitas bertahan hidup saat mencari jodoh, kelompok ini boleh jadi dekat dengan istilah "memperbaiki keturunan".
Apakah ini buruk? Lagi2 catatan ini tidak sedang membahas soal itu. Secara logika, bahkan kita tahu sekali, mencari pasangan dengan kecerdasan adalah jalan terbaik memastikan semua akan baik2 saja besok lusa. Pernikahan itu tidak sekadar karena cinta; kita tidak bisa membelanjakan cinta di supermarket. Pasti ditolak oleh kasirnya.
Yang ketiga atau yang terakhir, orang2 yang mencari pasangan lewat "hatinya".
Apakah kita bisa mencari jodoh dengan mencoret penilaian "mata" dan "otak". Tentu saja selalu bisa. Ada pemuda tampan dan gagah, dari keluarga berkecukupan, memutuskan menikah dengan gadis sederhana, tidak cantik, dari kasta rendah.
Kenapa? Karena pemuda ini yakin, calon istrinya besok lusa bisa mendidik anak2nya menjadi anak2 yang keren. Sebaliknya, ada seorang gadis jelita, kembang kampus, memilih seorang pemuda bersahaja, kusam tampilan dan rendah profesinya. Kenapa? Karena dia yakin, calon suaminya ini adalah pekerja keras dan jujur. Itu akan jadi modal untuk merengkuh kesuksesan besok lusa.
Golongan ini, tidak dekat dengan penilaian mata, penilaian logika. Mereka lebih dekat pada keyakinan hati.
Apakah cari ini paling unggul? Lagi2 saya tidak sedang membahas soal itu. Karena banyak juga, pasangan yang menikah karena keyakinan hati, ternyata hidupnya susah, banyak cobaan, dan tidak selalu berakhir bahagia seperti dongeng2 cinta.
Catatan ini simpel untuk menjelaskan variasi mencari jodoh. Kalian pilih yang mana? Maka bersiaplah dengan resikonya. Mencari jodoh dengan "mata", hati2 tergaet si mata keranjang. Kalian tidak oke lagi, siap2 saja dibuang. Pun mencari jodoh dengan logika dan nalar, hidup kita akan menjadi sejenis kompetisi, survival dan kesetaraan. Tidak terpenuhi lagi alasan2, argumen2nya, maka cukup hingga di sini semua cerita.
Pun saat mencari jodoh dengan "hati", bersiaplah bahwa bahagia atau tidak bahagia harus direngkuh dengan proses panjang. Masalah demi masalah adalah makanan kehidupan. Hilang keyakinan dan ketangguhannya, maka hati bisa berubah cara pandang.
Terakhir, terlepas dari kita akan memilih pasangan dengan cara apa, orang tua dulu sering menasehati: tidak semua orang memperoleh paket sempurna saat mencari jodohnya; tapi kita selalu berkesempatan untuk memperbaiki diri, belajar dari kesalahan.
Selamat mencari pasangan hidup terbaik.