Selasa, 22 Januari 2013

Dipilih atau Memilih???


Sebab cinta tak harus memilih,
sebab mencintai sesuatu semestinya hanya karena Allah yang berarti kita melepaskannya dari batasan eksternal dan internal yang telah mengkontaminasi fitrahnya, karena Allah sendiri hanya menawarkan alternatif, bukan membatasi. Cinta bukanlah segalanya, karena kehidupan ini hanyalah proses menentukan siapa diri kita, dan dicintai hanyalah sebagian kecil konsekuensi yang tidak perlu ditunggu, diharapkan atau ditakutkan. Cinta melahirkan kesejukan selama kita rela mengalami takdir yang baik dan fitrah kebenaran. Cinta menjadi abadi jika kita menikmatinya dengan frame keabadian.

Sebab cinta tak harus memilih,
cinta karena Allah adalah cinta seorang hamba dengan spektrum yang luas. Ia melihat kehidupan dengan cinta. Setiap hari, ketika Allah berikan kesadaran dan memasukannya kedalam perputaran kehidupan, Ia menjalaninya dengan cinta. Apa yang membuat seorang menjadi resah dengan penyimpangan kehidupan. Apa yang menghalangi seorang dari tidur dan istirahat untuk mengurus urusan umat yang kompleks ini. apa yang membuat seorang rela membelanjakan hartanya meskipun ia sendiri tidak berharta lebih, untuk meringankan beban saudaranya. Semua itu adalah spektrum cinta karena Allah.

Sebab cinta tak harus memilih,
cinta karena Allah adalah cinta yang lahir dari kerja keras mejaga rasa sayang Allah SWT kepadanya. Ia membingkai kehidupannya dengan frame cinta yang hakiki. Masalah terbesarnya adalah jika Allah murka dengan semua rasa dan amalnya. Kebahagiaannya terbesarnya adalah ketika Allah merahmati perasaan dan amalnya. Di dalam frame itulah ia menjalankan pentas kehidupannya. Maka ketika ia jatuh cinta, cinta itu membawanya kepada ketaatan. Cinta itu menghantarkannya kepada amalan-amalan yang membuat Allah semakin cinta kepadanya. Ketika ia jatuh cinta, cinta itu membentenginya dari perbuatan ingkar dan penyimpangan.

Sebab cinta tak harus memilih,
cinta karena Allah menghantarkan kepada kehidupan yang berkah dan penuh rahmat. Ia mengijinkan perasaannya tumbuh dan berbunga hanya dalam bingkai ketaatan. Ketika cinta lawan jenis hadir dalam dirinya, maka itupun tidak lepas dari komitmen menjaga hak-hak Allah di dalam cinta tersebut. Ia mempersembahkan cinta itu untuk orang yang memberinya jaminan cinta tersebut adalah berkah dan penuh rahmat. Ia menjalankan cinta tersebut dengan murakobah yang ketat. Ia selalu yakin, Allah memberikan pendamping yang baik sesuai kualitas kebaikan dirinya.

Sebab cinta tak harus memilih,
cinta karena Allah bukanlah cinta dusta. Yang berlindung dengan pernyataan, “Allah tahu niat saya baik”, tapi kemudian melakukan penyimpangan amal. Bukan cinta yang bisu dari pernyataan tausiyah dan tuli dari bisikan kebaikan. Bukan cinta yang melenakan dan menjerumuskan kepada kehidupan yang meresahkan. Bukan cinta yang diobral dengan hiasan kemaksiatan dan sekedar mengejar sebuah tuntutan sosial. Cinta karena Allah bukan cinta ’30 hari mencari cinta’.

Sebab cinta tak harus memilih,
cinta karena Allah adalah cinta yang seterang matahari. Ia penuh dengan ketulusan dan bukan basa-basi. Ia jelas dengan perangkat yang tidak menyimpang dari statusnya sebagai hamba. Cintanya bukan sekedar kedekatan, melainkan juga tanggung jawab. Bukan sekedar romantika dunia, melainkan senandung mulia penduduk langit. Jelas, terang, dan tidak ada sedikitpun yang disembunyikan. Cinta karena Allah tidak membutuhkan pertanyaan ‘Ada apa dengan cinta’.

Sebab cinta tak harus memilih,
cinta Karena Allah ada dalam tingkatan ketaatan, Allah sang Raja, Rasulullah sang kekasih, Perjuangan yang dirindukan, dan pasangan hidup yang meyejukan pandangan, serta anak-anak saleh dan shalehah sebagai bunga dan buahnya. Cinta tulus, cinta murni, cinta yang hidup dan menghidupkan.

Sebab cinta tak harus memilih,
sebab cinta hanya cinta karena Allah, dan menjaga hak-hak sebagai hamba, maka cinta karena Allah-lah dan selamat menjalani cinta. Semoga Allah memuliakan disebabkan cinta itu. Menghimpun dalam rahmat sebagai buah dari cinta itu. Dan melahirkan generasi kuat pewaris risalah dengan cinta itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar